Natal pertama di negeri Belanda. Natal pertama jauh dari keluarga. Natal pertama saat saya melihat gereja di Tilburg menjadi penuh kembali dengan koor dan orkes yang menarik.
Seribu satu cerita dan pesan Natal membuat saya ingat kembali manisnya Natal, tapi memang tinggal jauh dari keluarga membuar Natal terasa beda. Prosesi misa natal di Gereja ‘dua menara’ Saint Joseph tidak mempunyai prosesi lilin atau cahaya. Semalam saya berangkat sendirian dan sempat terkejut melihat gereja yang biasanya sepi, dingin dan kosong menjadi penuh dengan orang-orang Belanda. Memang, misa tidak dalam bahasa Indonesia atau Inggris tapi semangat Natal ternyata masih ada. Entah kenapa saya hanya bisa berdoa untuk keluarga, untuk teman-teman saya, orang-orang-orang yang datang ke misa saat itu, termasuk untuk orang-orang yang merasakan cemas, takut, bimbang serta sakit penyakit saat Natal ini. Sehari sebelum Natal ada yang mengingatkan saya tentang arti Natal, tentang cinta, iman dan pengharapan. Cinta? Ah kata ini mengingatkan saya akan keluarga dan teman saya, Iman mengingatkan saya untuk percaya akan sesuatu, dan pengharapan akan janji Dia untuk memberi yang terbaik bagi saya.
Beberapa hari sebelumnya, seorang teman dari Amerika mengatakan bahwa iman seperti hal kuno karena itu terutama diperlukan saat perang, saat kekacauan dan manusia dalam ketakutan, itulah saat dimana iman diperlukan. Itu sebabnya ia merasa tidak perlu iman, satu pertanyaan yang membuat saya merenung, apakah saya tidak pernah merasa takut, cemas, dan tidak butuh iman dan pengharapan?
Eropa mungkin terasa sekuler, tapi saya percaya cinta, iman dan pengharapan adalah hal yang dapat diterima dimana saja dan Natal mengingatkan saya akan hal ini bahwa saya dicintai, mempunyai iman dan pengharapan akan janji Dia untuk memberi yang terbaik bagi saya.
SELAMAT NATAL.. TUHAN MEMBERKATI
Tilburg, 25 Desember 2007
PS : foto diambil dari nativity scene di depan gereja 'dua menara' di Tilburg