Andreas' posts with tag: indonesia

|  | Seru!!! Hari itu KBRI mendadak penuh dengan sekitar 200 mahasiswa Stuned yang tersebar di Belanda. Inilah ajang kumpul-kumpul lagi setelah acara briefing tahun lalu. Tidak sia-sia datang dengan kereta dan disambung dengan trem hingga sampai di Kedubes
Suasana hari itu persis seperti di Indonesia dengan segala celoteh khas Indo, makanan siang dari Kedubes yang khas seperti sayur lodeh dan ayam goreng, canda dari teman-teman yang sudah lama tidak dijumpai serta acara foto bersama.
Dubes bapak Fanny Habibie memberi sambutan yang cukup lama tapi terasa menghibur dan sempat beberapa kali membuat peserta terpingkal-pingkal, ah jadi ingat kata-kata dia tentang pulang ke Indo (go to mmmmmhm !!!) Ibu Monique yang kembali dijumpai, orang-orang Neso yang datang, ah suasananya mengingatkan acara di Erasmus Huis setahun lalu.
Makan siang mungkin adalah acara yang paling ditunggu, tentunya menu Indonesia, ah sayur lodeh, sudah lama tidak mencicipi masakan ini. Akhirnya siang itu kami tidak perlu memasak makanan karena biasanya mahasiswa rajin memasak makanan.
Setelah acara sesi foto yang sempat bingung karena banyaknya mahasiswa, penampilan dari ISS, diskusi yang salah satunya memakai ruang gamelan (lihat di foto), acara ditutup dan banyak yang langsung melanjutkan ke Pasar Malam Tong Tong.
Catatan : Beberapa peserta Stuned Day ada yang membajak Trem 17 sehingga membuat bingung penumpang asli Belanda karena trem langsung dipenuhi anak-anak Indo. Seorang teman bercerita adanya orang belanda yang bingung dan bertanya-tanya karena adanya "pembajakan" tersebut dan ternyata saat pulang, "pembajakan" juga berlangsung kembali.
|

|  | Inilah pasar malam terbesar di Belanda yang sering disebut Tong Tong yang menyediakan dari pisang goreng seharga 14 ribu, gulai kambing, nasi rames, rokok kretek, krontjong, indorock, bir nasional indonesia hingga mmm guling :-P. Setidaknya itulah yang kami (lihat fotonya disini) santap untuk makan malam.
Selepas acara Stuned di Kedubes, kunjungan ke pasar malam yang terletak di samping Den Haag Centraal Station dengan tiket mahasiswa seharga 9,5 euro ternyata menyenangkan (meski kami tidak bisa dua kali korting karena sudah dapat korting sebagai mahasiswa :-P ) Demi menuntaskan kelaparan, akhirnya perut dikenyangkan dengan kambing guling, gulai, rendang, bakwan, es teler, sate, pisang goreng dan sate padang. Maaf kalau makannya terasa kalap.
Selesai urusan perut , barulah acara santai dimulai hingga tercetus acara sesi foto kolonial hingga ada yang menjadi nyai, meneer londo, selingkuhan dan mmm anak hilang. Panggung utama malam itu menawarkan acara krontjong yang bikin tersenyum seperti lagu nina bobok-nya yang bisa dinikmati dengan bir nasional indonesia alias bir bintang...meskipun ada juga softdrink dan bir asli eropa :-)
Referensi : - Pasar Malam Besar, web resmi, http://www.pasarmalambesar.nl/ - Pasar Malam Web, http://pasarmalam.nl/index.shtml - http://en.wikipedia.org/wiki/Pasar_Malam_Besar - http://nl.wikipedia.org/wiki/Pasar_Malam_Besar
|
Pergi pulang balik Belanda – Indonesia – Belanda sempat membuat gegar budaya skala kecil yang tak terduga. Dari toilet paper sampai roti isi, dari mengemudi di kanan hingga jalur sepeda. Bahkan fast food juga membuat saya sedikit kaget. Pertama kali tiba di Jakarta, rasanya tidak terbayang kalau ada sedikit gegar budaya yang sedikit aneh, saya sempat bingung mencari toilet paper yang tiap hari saya gunakan di Belanda namun ternyata jarang sekali ada di toilet di Indonesia, termasuk di rumah sendiri. Untunglah akhirnya terbiasa dengan cara asli ala Indonesia. Satu hari saya makan fast food untuk pertama kalinya lagi di Indonesia, McDonalds, yang selalu jadi tumpuan harapan saya di Eropa karena harganya jauh lebih murah dari resto lainnya, maklum hanya dengan 5,5 euro saya bisa makan Big Mac, salad, dan minuman, saat itu saya hampir saja berbahasa Inggris kepada kasir. Entah karena masalah beban pikiran yang begitu menumpuk atau karena masalah disorientasi. Di hari lain, di jaringan fast food lain, saya nyaris saja membersihkan nampan saya, membuang sampahnya dan meletakkannya di tumpukan nampan bersih. Waduh, gagap budaya lagi, maklum di sini semua harus membersihkan sendiri. Waktu saya belanja di pasar swalayan, saya juga nyaris memasukkan belanjaan saya ke kantong plastik, hingga akhirnya sadar ada petugas khusus yang memasukkan belanjaan ke kantong plastik saya. Saya baru sadar, Eropa sebagai asal muasal roti ternyata tidak sekreatif orang Indonesia. Beberapa hari setelah tiba, saya mendadak kangen roti Bread Talk, Bread Story atau Holland Bakery, maklum di Jakarta saya sampai bisa makan 3 roti sekaligus waktu pulang kemarin. Disini tidak ada roti isi daging, coklat, pisang, keju de el el. Yang ada hanya roti biasa yang kita buat sendiri. Jadi siapa bilang orang Indonesia tidak kreatif dalam hal makanan. Gegar makanan juga berlanjut saat makan di resto wok, satu resto masakan china di Tilburg. Saya sudah memesan 4 mangkuk sambal (ukurannya kecil sekali, isinya sambal oelek), untuk saya dan 2 orang teman. Saat memesan lagi, sang pelayan berseru dengan ekspresi penuh terkejut,” Meer????” (lagiiiii?), ooops si pelayan tidak tahu saya tergila-gila sambal dan suka masakan menado yang pedasnya mungkin terasa mengerikan dengan cabai rawitnya. Setiba pertama kali tiba di Schipol, rasanya kaget melihat cuaca yang cerah dengan matahari yang bersinar dengan hangatnya, tapi juga terkejut melihat seorang anak kecil berkawat gigi eksterior, waduuuh ngeri melihat kawat gigi yang ditunjang bagian eksterior di lehernya, apa karena biaya dokter gigi yang sangat sangat sangat mahal di Belanda? Di Indonesia, rasanya sudah tidak ada lagi yang memakai kawat gigi ini, entah karena tidak tren atau mungkin karena biaya dokter gigi yang lebih murah. Ini juga mengingatkan saya akan keterkejutan saya melihat teman-teman yang memakai HP Nokia Communicator, memang benar kata orang, di Eropa saya tidak pernah melihat orang memakai HP Communicator. Bahkan para professional di Big Four, dan para pengacara hanya memakai HP yang terlihat sederhana. Yang canggih hanyalah black berry yang mereka pakai, itupun karena biasanya diwajibkan oleh kantor mereka. Sekeluar dari Schipol, selain sedikit disorientasi dimana saya harus mengemudikan sepeda, di kiri atau di kanan, saya sempat menyangka jalur sepeda yang dicat merah adalah jalur buswaeee. Halaaaah, kok jadi bingung ya? PS : cerita diatas bukan iklan merek tertentu, cuma kebetulan. Tulisan ini juga dibuat untuk melihat sisi positif dari kepulangan saya ke Indo yang tidak disangka-sangka yang dapat juga mengingatkan saya akan sisi positif itu.
Link: http://www.imediabiz.tv/It's totally free to watch Indonesian TV broadcasting on the web, though the size is small but its worth a try mainly for Indonesians living abroad There's actually another web providing similar service but it's a paid service
We're able to watch RCTI, SCTV, Metro TV, Trans TV, Trans7, Indosiar, and Jak TV For this free service, the web also gives a chance for us to donate
Link: http://www.kamus-online.com/?lang=enEnglish - Indonesia - Javanese dictionary... A free online dictionary that might be useful for you, though I prefer to use monolingual dictionary due to more comprehensiveness like Oxford and Webster, this web might be useful input for our language study I smiled when I translated some typical indonesian words like "dodol", "ojek" and I got the result immediately with good result Javanese - English online dictionary? it might seem like a joke, but it's not a prank, its service is available if you pay it. I wonder if "bahasa jawa halus" is also available and .. mmm is there free Javanese - Indonesian online dictionary? any idea? :-P another possibility is this http://indodic.com/index.htmlbtw this indodic.com it also has offline version PS : I wish it could save you some dimes for your dictionary budget
Link: http://www.adventures-in-indonesia.co.uk/This British bloke has made a wonderful documentation as well as a book about Indonesia after he went to Sumatra, Java, Bali and Lombok. I find his photos interesting, but to make it more interesting he has done an independent travel across this archipelago that left him with such a deep impression.
Having seen this website with his personal story of his backpacking made me want to order and see his book. It's fun to see the portray of my home country in a different perspective. His website also has cool links such as what CIA thinks about Indonesia hahahaha
Visit his web and enjoy an amazing story to an archipelago country called Indonesia.
Is it safe to travel to Indonesia because of the bombing, earthquake, tsunami and many other things? This question might sound not overwhelming, but on the other hand, a bit naive and show total unfamiliarity of a country called Indonesia. It is also a dull, peculiar and, on certain level, annoying to certain people. I have seen this question thrown in certain discussion forum for travellers. One day, a Canadian gave this question to Indonesians and I eventually could not refrain myself from replying it. This is my reply ====================================== it's similar thing that i saw in many travel discussion forums like thorn three of lonely planet check this out for details www.lonelyplanet.com/thorntree/forum.jspa?forumID=23&start=0... so join this traveler forum for more fair insight about Indonesia since people might think that the opinion given by Indonesian is a bit bias, or join the other traveler forum about Bali (and Indonesia) boards.bootsnall.com/eve/forums/a/frm/f/2083038267 you might notice that those involved in this forum are mostly foreigners (westerners), and one of the interesting answers comes like - If you see bombing happened in London, would you decide not to go there? does it mean there's supposed to be travel warning to go to England or even US after the bombing? or - Does it mean that after the things described in the travel warning, Australian tourists stop coming to Bali (for example) since Australian are the main targets? the funny things could be seen from their advice and report about westerners coming to Indonesia enjoy the topic there, I also agree to many people's conviction that the more we feel afraid the more we're unable to overcome the fear created by those moronic-evil-nasty-insane so-called terrorists.. In short, enjoy and interesting discussion in those two forums and decide by yourself, but I do believe once you decide to go Bali, what you see is usually the crowd of foreigners and westerners in many places I hope it helps you a lot ======================= Usually, as you could read from my reply here, I let other foreigners to reply this question. Thus, I still ask that person to see the discussion forum. I have even seen two interesting discussions about similar question in the Thorn Tree Forum recently with replies coming from Indonesian-loving westerners. Now, because of my new habitat, it didn’t save me from meeting person with similar question about how safe the country is. The tsunami and the earth quake It was a Belgian guy (Flemish one) who asked me if there is any of my relatives died due to tsunami. I immediately smiled and replied that there’s none of them. He was still confused until I explained it would be like saying there is a tsunami in Portugal and he said the same question to a Dutch that means, as some people could say, one in a million (hopefully it’s the right term to portray the situation). It takes around three hours to go from Jakarta to Banda Aceh let alone the flight from Aceh to the Indonesia’s easternmost province, Papua. I do know that people’s geography skill is usually limited and they take it or granted. Anyway, apart of the question about tsunami and earthquake, we are only able to compare apple to apple, not apple with a stingy thorny fruit named durian. Talking about earthquake in Indonesia becomes something in the spotlight after the tsunami and Yogya’s earthquake as well as the other natural disasters. However, I was glad to see the National Geographic report about Indonesia’s volcanoes. Even, I find it amusing, informative and wonderful. To make the long story short, I like to answer the question with my smile, and grin as well, but at the same time say, if it’s not safe, go to touristy places in Indonesia, and feel the crowd of tourists there and if you have ever been to Indonesia, which part of Indonesia? (to let them know how huge the country is) Personally, I still dream of going to eastern part of this country. PS : thanks to my fellow travellers or anyone who become unpaid public relation officer of this amazing archipelago.
Reog ponorogo, Rasa Sayange, Angklung, Batik, Jamu, ect. Those things obviously belong to Indonesia It's a nice ad to describe the diversity and the richness of the country
Disclaimer : it's not a promo nor a paid effort to promote this brand, it's merely to show the Trully Indonesia Import.flv (2.4 MB)
Penah berbagi cerita tentang indahnya negeri ini dan ingin agar orang asing juga dapat menikmati indahnya Indonesia? Pernah bertemu orang non Indonesia yang penasaran akan Indonesia dan ingin bertanya banyak tentang negeri tercinta kita tentang keindahan alam, budaya dan lainnya? Belum lama ini juga banyak orang Indonesia merasa panas karena berita tentang budaya kita yang diklaim orang atau pernah melihat orang asing yang takut datang ke Indonesia? Ah rasanya perasaan saya campur aduk tentang cerita dan ribut-ribut tentang pencurian budaya dan citra Indonesia Akhirnya saya mulai bisa melihat Indonesia dari cara pandang lain setelah “minggat” ke negeri orang. Saya bisa melihat Indonesia dari cara pandang orang asing, cara pandang orang ketiga. Rasanya buang-buang energi waktu ribut kasus pencurian budaya, meski saya kaget juga melihat masalah ini dalam thread Lonely Planet dalam forum diskusinya, bahkan ada yang mengatakan bahwa negara tetangga kita adalah Truly India, Truly China, Truly Indonesia. Ternyata banyak orang asing yang cukup tahu masalah ini. Hampir semua komentar backpacker asing di Thorn Tree positif tentang Indonesia bahkan beberapa yang mengatakan,” if you say you have been to Indonesia, but what part of Indonesia?” saya setuju sekali dengan pendapat dia bahwa Indonesia begitu beragam dengan budaya dan alam yang sangat berbeda. Bayangkan kalau di beberapa tempat di Indonesia seperti Lombok, alam terlihat kering, tandus dan berbeda dengan hutan hujan di daerah Ujung Kulon misalnya. Terasa lebih elok kalau kita menanggapi semua perdebatan tentang Indonesia dengan kepala dingin, kalau saya sendiri memilih dengan sepenuh hati berbagi indahnya negeri tercinta Indonesia kepada orang asing. Cuma itu yang saya bisa lakukan sementara ini dengan berbagi cerita tentang indahnya alam Indonesia dan menariknya budaya Indonesia kepada orang asing (non Indonesia) yang dapat kita temui secara fisik atau di dunia maya, Saya masih ingat cerita yang saya bagikan tentang indahnya Sabang dan Pulau Weh di satu hostel kepada orang Irlandia yang bersemangat mendengarkan pengalaman saya, Cerita sederhana yang ternyata menggugah hatinya Satu saat saya berbagi info tentang indahnya tinggal di Bali kepada seorang Itali yang merindukan surfing di surga tropis. Matanya berbinar waktu saya bercerita tentang Bali. Dalam satu kesempatan, seorang Belgia bertanya tentang Ujung Kulon, jawaban saya selain bercerita tentang indahnya tempat ini, luar biasanya pemandagan disana, nikmatnya naik kano disana, saya tutup dengan kalimat, ”Highly recommended”, Namun ada satu pengalaman menarik waktu saya bercerita tentang indahnya Indonesia khususnya Jawa kepada orang Jawa Suriname di Belanda. Dia belum pernah menginjakkan kakinya di Indonesia dan ia mengatakan kalau satu saat ia berkunjung, kunjungan itu akan terasa emosional baginya. Makanan di Indonesia sebenarnya juga bisa menjadi satu sumber wisata yang tidak ada habisnya dengan makanan yang beraneka rupa dari makanan tradisional, masakan Cina, India, Asia hingga Eropa mudah ditemukan. Saya pernah menerangkan kepada teman Belanda tentang arti rijstafel di Indonesia hingga akhirnya saya menerangkan adanya kekayaan kuliner di Indonesia yang sangat beragam karena adanya ratusan etnis di Indonesia. Bahan makanan di Indonesia umumnya segar atau masih hidup, pengalaman tak terlupakan saya adalah saat saya makan lobster ukuran besar seharga 25 ribu rupiah di Teluk Kiluan Lampung. Seorang teman asal Portugal juga membenarkan lezatnya makan ikan bakar di Indonesia yang juga murah. Bayangkan itu hanyalah satu dari begitu banyak kekayaan kuliner di Indonesia. Tentang keindahan alam, bayangkan kalau diri kita mengelana jauh ke negeri orang, tentunya kita ingin melihat keindahan negeri itu, namun di Indonesia rasanya sukar mengandalkan pemerintah. Di negeri lain fasilitas informasi wisata melimpah, tapi di Indonesia? Rasanya kita perlu mempunyai semangat untuk berbagi. Kenapa tidak mulai berbagi keindahan negeri kita? Saya sendiri tidak menutup kemungkinan ada turis yang punya pengalaman buruk, apalagi jika melihat turis yang kritis, dan mungkin bukan turis pengelana pecinta alam. Satu pasangan Belanda pernah bercerita tentang alasan mereka memilih pergi ke Malaysia dan Thailand karena ada penerbangan langsung kesana dan menurut mereka tidak terlalu turistik seperti Bali. Seperti biasa saya mengompori mereka untuk datang ke Indonesia. Saya juga pernah menemukan seorang bacpacker asing yang menuliskan touris trap Indonesia di webnya serta hal-hal yang harus dihindari, namun ia juga menulis tentang tempat non turistik yang wajib dikunjungi di Indonesia (http://members.virtualtourist.com/m/2e789/654/8/) Terkendala bahasa? Meski demikian, kenapa tidak mencoba? Saya yakin terkadang bahasa bukan satu halangan utama, karena foto dan kemauan masih bisa juga bercerita banyak tidak hanya tentang alam tapi juga tentang budaya negeri tercinta. Sayangnya banyak orang Indonesia tidak tahu tentang keindahan dan keelokan negeri sendiri, banyak yang bingung mau menunjukkan apa. Rasanya terlalu indah untuk dinikmati sendiri. Sekedar catatan tambahan, terkadang jika ingin mendapatkan info jalan yang lengkap lebih baik kita melihat Lonely Planet edisi Indonesia yang jelas-jelas ditulis oleh orang asing. Akhir kata rasanya akan lebih baik jika kita lebih mengenal keindahan negeri sendiri dan akhirnya bisa berbagi kepada orang lain tentang indahnya negeri ini. PS : Dunia maya juga bisa menjadi jawaban jika anda ingin menjadi berkat bagi pariwisata Indonesia. Selamat mencoba !!!
Playing guitar with their foot, unique performance, funtastic rock music, Cool Dutch Indo Rock Band that became popular in Netherlands in 1960s see their performance here on this video too bad, many Indonesians do not now who they are they even seem more attractive than Elvis!!!
keep rock on roll dude!!! Import.flv (13.4 MB)
Orang Indonesia ternyata suka berkumpul, dimanapun mereka berada di penjuru dunia..., sukar untuk meninggalkan kebiasaan yang sudah mendarah daging ini selalu dibawa kemanapun mereka berada. Inilah kesimpulan yang saya dapat setelah minggat dari negeri sendiri. Ini semua berawal dari kata-kata seorang Belanda yang mendukung pemahaman saya sebelumnya. Bayangkan, mana mungkin kita menerjemahkan arisan ke dalam bahasa asing, bagaimana kita menjelaskan konsep RT dalam bahasa asing? Atau bagaimana jika anda menjelaskan bahwa anda nongkrong di gardu kamling? Satu ide yang terasa absurd bagi sebagian orang di bagian lain di dunia. Nuansa individualisme sangat terasa meresapi hati pada kebanyakan orang Eropa, meski masih ada beberapa daerah seperti di Belanda yang masyarakatnya tetap memperhatikan nilai komunal dengan cukup kuat. Pernahkah atau seringkah kita melihat pengelana dari negeri Eropa yang membawa Lonely Planet berkelana sendirian di Indonesia? Saya yakin jawabannya, sering!!!! Saya sendiri sadar waktu memutuskan minggat dari Tilburg di awal musim gugur, benar kata orang, saya makhluk langka di kalangan orang Indonesia yang bisa menikm ati perjalanan sendiri ke negeri lain yang masyarakatnya tidak bisa bahasa Inggris. Sedangkan pada saat yang sama teman-teman saya pergi ke tempat lain bersama-sama, kebetulan juga jadwal liburan saya tidak bersamaan dengan teman saya.  Di milis para penggila jalan bahkan serin g ada tawaran jalan bersama, dan sering ada trip hingga keluar negeri. Entah kenapa saya jarang melihat penawaran ini disini, (meski belum lama ini ada penawaran trip bareng ke Eropa Timur yang harus saya tolak meski harganya murah, hiksssssss). Beberapa kesan orang Eropa, termasuk professor saya yang doyan jalan, yang mengatakan bahwa orang Asia Tenggara termasuk orang Indonesia termasuk murah senyum benar adanya. Mungkinkah ini dikarenakan cuaca tropis yang hangat? Satu hal yang cukup menggelitik saya adalah kata-kata seorang Belanda bahwa meskipun orang Indonesia tinggal bersama di satu asrama mahasiswa di Belanda, namun mereka tetap sedikit membuka pintunya. Satu kenyataan bahwa orang Indonesia lebih bersifat komunal daripada orang Eropa   Tentang saya sendiri, saya terkadang menikmati jalan sendiri maupun jalan bersama teman. Yang jelas keduanya sama-sama menyenangkan!!!!!
Bayangkan, dari jutaan sepeda di Belanda, tidak ada satu pun tukang tambal ban di Belanda. Dari sekian banyak kampus, tidak ada satu pun tukang foto kopi dan warung makan murah meriah di sekitar kampus. Bisakah ini berubah? Tidak mungkin? Bagaimana jika Belanda terletak dekat Indonesia?
Dapat saja terjadi, ratusan atau ribuan tukang tambal ban akan merelokasikan usahanya ke Belanda untuk meraup euro. Mereka akan berusaha mendapatkan visa tenaga kerja dengan keahlian khusus bahkan sektor ini bisa dipastikan akan dikuasai orang Indonesia, tentunya tanpa merujuk pada etnis tertentu di Indonesia. Bisa diramalkan, yang terbaik sajalah yang akan meraih keberhasilan tentunya termasuk dengan mengembangkan usaha sampingan seperti kursus tambal ban serta penjualan kit tambal ban untuk pribadi.
Pengusaha warung tegal akan segera mengembangkan usaha ke negeri belanda, terutama membuat menu Rijsttafel. Para pemilik warung mungkin akan sedikit terkejut saat menyesuaikan diri dengan standar kesehatan Eropa. Waroeng Indonesia akan bertebaran menyediakan rijsttafel siap saji dengan automaat atawa vending machine. Mereka akan membuka cabang di tiap kampus, dan memposisikan diri sebagai penjual makanan Indonesia yang murah meriah. Namun yang paling penting mereka harus belajar melaporkan penghasilan mereka ke BelastingDienst atau Kantor Pajak di Belanda. :-P
Makanan cemilan Indonesia akan semakin terkenal bahkan para penjual lumpia asal Vietnam di Belanda bisa tergusur kepopulerannya karena banyaknya dan beraneka rupa makanan jajan pasar asal Indonesia. Pisang goreng (banana fritters atawa fried banana), bakwan malang, lumpia semarang, bika ambon, batagor, gado-gado, asinan dan ketoprak mungkin bisa dijadikan menu favorit bagi pecinta makanan cemilan Indonesia.
Tukang foto kopi yang mengembangkan usahanya di Belanda harus belajar hukum atau Undang-Undang Hak Cipta yang seringkali diabaikan di Indonesia. Mereka akan mengusahakan pembayaran royalti atas buku-buku yang difotokopi, satu usaha yang dapat saling menguntungkan bsgi mahasiswa dan penulis buku.
Coffe shop akan dipelesetkan menjadi waroeng koffie, tempat orang Belanda juga bisa mencicipi minuman non alkohol versi Indonesia yang menghangatkan tubuh dari bajigur, sekoteng hingga wedang jahe. Para penikmat hidup sehat Belanda kemungkinan besar akan menyerbu waroeng ini termasuk penggemar wine produksi Bali yang akan mendapat pasar baru di Belanda lewat waroeng ini.
Liburan di Indonesia!!! Bali dan Indonesia khususnya pasti akan menjadi tujuan liburan nomor satu di Belanda. Pemandu wisata tidak perlu repot belajar bahasa Belanda karena hampir setiap orang Belanda lancar berbahasa Inggris, namun segelintir pemandu wisata akan belajar bahasa Belanda untuk mendekatkan diri dengan para wisatawan asal Belanda. Saat musim dingin yang menusuk tulang, jumlah wisatawan akan meningkat untuk bermandi matahari di Indonesia
Belajar di Belanda? Kenapa tidak? Dengan biaya kuliah yang bersaing, dan begitu banyaknya program kuliah berbahasa Inggris, Belanda jelas menjadi pilihan, mungkin jadi pilihan menarik dibanding program internasional dari kampus Indonesia. Akhirnya banyak kampus akan menawarkan program double degree berbahasa Inggris dengan Universitas di Belanda.
Katakan cinta dengan tulip!!! Tulip bisa jadi satu bahasa dan simbol cinta, tukang bunga potong akan mengimpor tulip dari Belanda, sebaliknya bunga tropis seperti anggrek akan menjadi bunga favorit di Belanda
Pulang kampung akan mudah, bayangkan ada banyak orang Suriname keturunan Jawa yang sekarang tinggal di Belanda. 15 % dari orang Suriname bahkan keturunan Jawa. Mereka akan pulang kampung karena mudah dan murah, termasuk menelusuri romantika jejak nenek moyang mereka, meski nama Jawa mereka hanya menjadi nama keluarga, mereka akan menemukan kembali akar mereka karena mampu berbahasa Jawa.
Buat saya sendiri, hal yang penting adalah serupa dengan yang terakhir... bisa pulang kampung dengan mudah hehehee
Dari yang rindu kampung eh kota halaman di tengah musim gugur.
| |