Andreas' posts with tag: peristiwa
Pernahkah anda membayangkan kalau banjir ternyata bisa menjadi satu hal yang menyenangkan?. Satu kesempatan dimana kita berkumpul bersama para tetangga, bercengkerama, bermain bersama, membolos bersama-sama dari kantor dan sekolah, bahkan hingga berfoto bersama. Rasanya kejadian yang seru dan unik ini tidak akan pernah saya lupakan. Jadi jika lain kali kita mengalami banjir yang mungkin untuk kesekian kalinya, kita bisa melihat secara positif meski kejadian ini sepertinya telah menjadi ritual tahunan yang menjengkelkan.
Kisah diatas terjadi sekitar 10 tahun lalu di kompleks permukiman tentara di ibukota Jakarta yang saya tinggali. Hingga bertahun-tahun perumahan ini tergolong anti banjir, dan rumah saya sendiri pada saat itu tidak pernah mengalami banjir hingga satu malam setelah saya menonton TV hingga larut malam ditengah hujan yang turun dengan derasnya. Sebelum tidur saya sempat menyadari lampu padam,”ah mati lampu,” gumam saya. Saat tengah tertidur pulas, ibu saya berteriak-teriak membangunkan saya dan kakak-kakak saya memperingatkan banjir. “Banjir? Ah mana mungkin,” pikir saya. Sekilas saya sempat berpikir ibu saya saat itu mengigau karena sekalipun tidak pernah air masuk ke dalam rumah ditambah kenyataan padamnya listrik. Tapi karena dia berteriak terus-menerus, saya terusik untuk bangun dari tempat tidur. Menginjakkan kaki di lantai, saya terkejut mendapati lantai kamar tergenang air sampai ke mata kaki. “Banjir”, saya terkesima. Segera saya sibuk meraba-raba dalam kegelapan mencari senter dan alat penerang lainnya dengan bingung. Masih dalam keterkejutan waktu menyadari hujan masih turun dengan derasnya sehingga air akan terus naik. Sedikit kuatir karena akan sulit berangkat sekolah, akhirnya saya malah berpikir saya tidak mungkin sekolah waktu saya menyadari sepatu yang saya taruh di lantai basah tergenang air. Saat hari mulai cerah, kami tidak langsung membenahi rumah karena hujan masih turun rintik-rintik. Akhirnya beberapa tetangga, tua muda berkumpul di lapangan bulu tangkis dekat rumah. Kami bernasib sama, terkejut saat mendapati pengalaman pertama kami, ….kebanjiran!! Beberapa kawan dan tetangga mengajak saya berkeliling kompleks yang lebih parah diterpa banjir, disitulah pengalaman unik mulai berawal. Dari teman saya, dan juga saya tentunya, yang mengalami genangan air yang tinggi hingga mencapai pangkal paha, melihat ikan mas berkeliaran di depan mata (sudah tentu ikan tersebut keluar dari kolam ikan yang meluap), menangkap penyu yang sedang berenang di jalan, menemukan sepatu yang mengambang (yang tentunya membuat pemiliknya tidak bisa berangkat kerja) sampai melihat tikus berenang untuk mencari tempat yang kering. Lucu, unik dan menarik, itulah kesan yang kami tangkap. Ditambah lagi saat kami berkumpul di lapangan bulu tangkis dekat rumah, kami saling berbagi cerita lucu. Ada seorang kawan yang sudah bertekad bulat akan berangkat kerja namun akhirnya mendapati sepatu sebelah kanannya hilang karena hanyut, yang lain setelah berangkat ke sekolah harus pulang karena sekolah diliburkan disebabkan banjir yang parah, mencapai selutut. Lainnya juga ada yang harus pulang karena tidak mendapatkan angkutan yang kebanyakan tidak beroperasi meski mereka sudah bersemangat 45 untuk menembus banjir. Pengalaman pertama kali kebanjiran juga terasa lucu bagi kawan-kawan saya. Ada yang saat tidur di atas kasur yang tergeletak di lantai, dia berguling ke sisi lain hanya untuk mendapati dirinya basah kuyup karena banjir sudah menggenangi lantai. Disaat berkumpul itulah kami saling berbagi cerita yang membuat kami sadar, sangat jarang kami berkumpul di hari kerja seperti saat itu. Mumpung hujan belum reda, beberapa kawan memutuskan berpetualang banjir di luar kompleks perumahan. Saya dan seorang kawan bermain ke bekas sekolah saya yang juga diliburkan dan menemui mantan guru saya yang sudah beberapa lama tidak saya temui. Seorang kawan turut berpetualang di kompleks perumahan tetangga dan bermain di rumah kawan lamanya. Ah rasanya banjir jadi sarana silaturahmi tersendiri bagi saya dan kawan-kawan. Setelah kami berkumpul kembali seorang kawan berinisiatif untuk mengambil kameranya yang masih berisi film (saat itu belum dikenal kamera digital yang sudah lazim sekarang ini) dan mengambil foto kenang-kenangan dari silaturahmi banjir. Untung tidak ada pose narcis dari kami yang malah berpose dengan ceria di depan kamera saat itu. Tentunya kami memutuskan kembali ke rumah setelah hujan mereda untuk membereskan rumah masing-masing. Bertahun-tahun kemudian saya masih bisa mengenang peristiwa berkesan tersebut, satu berkat tersembunyi dimana kami bisa bersilaturahmi di tengah “kesengsaraan”. Satu cerita manis yang layak dikenang. Sekarang kejadian banjir sepertinya sudah menjadi langganan setelah banyak daerah tangkapan air menjadi perumahan, empang dekat rumah tempat banyak orang memancing dan mengambil kangkung sekarang berubah menjadi perumahan. Di empang itu juga dulu banyak terdapat “kepik emas” yang sering saya kumpulkan saat masih kecil dulu. Disana pula seorang kakak lelaki saya sampai lupa waktu dengan berenang disana. Saat itu dia bersembunyi dengan menyelam dibawah air waktu ibu saya mencarinya tapi karena kehabisan nafas dia menyerah dan muncul di permukaan. Di empang itu pula tetangga saya menanamkan modal dengan menyebar bibit ikan yang akhirnya saat banjir ikannya berlarian kesana kemari.
Look at the bright side Namun banjir tetaplah banjir, suatu malapetaka yang membuat saya merenung dan mempertimbangkan kata-kata bijak, “ Look at the bright side!”. Saat kebanjiran seorang teman yang tinggal di satu perumahan elit di Jakarta Utara yang kesal karena lantai dan dinding rumah dipenuhi lumpur mendapati beberapa ekor belut yang akhirnya ia goreng untuk menjadi santapan lauk keluarganya yang sedang kelelahan membersihkan rumah. Ia akhirnya menyerah untuk membersihkan rumahnya dan menyerahkan pekerjaan itu kepada orang lain. Satu rejeki yang tak terduga bagi si pekerja karena banjir. Rejeki tak terduga juga mengalir bagi para pemilik gerobak yang menyewakan gerobaknya untuk mengangkut para pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang tidak dapat melintasi banjir yang menggenangi jalan. Pada saat banjir melanda Jakarta, beberapa pemilik rumah membuang mebelnya yang sudah rusak karena tergenang banjir meski mebel tersebut tidak rusak total hanya bentuknya saja yang sudah tidak menarik lagi, beberapa orang yang tertarik akhirnya mengambil mebel gratis tersebut. Mungkin rasanya terdengar seperti di Jepang, membuang mebel yang tidak terpakai lagi meski sebenarnya masih layak pakai. Pengalaman menarik juga ada di satu kompleks angkatan laut. Karena seringnya banjir, pemilik rumah meninggikan rumah sekitar satu meter, sehingga benar-benar kontras dengan jalanan. Pengelola perumahan sepertinya juga sudah terbiasa sehingga perahu karet tentara tersedia saat banjir melanda kompleks tersebut. Di beberapa tempat meski becak dilarang, ternyata becak masih menjadi dewa penolong bagi para pejalan kaki saat harus melintasi banjir. Becak sendiri dibagi menjadi dua, becak biasa yang beratap seperti yang biasa kita kenal dan becak gerobak yang tidak beratap. Mungkin lebih nyaman untuk menaiki becak gerobak karena lebih handal menembus banjir yang semakin mengakrabi warga Jakarta. Memang benar kalau kita sebaiknya melihat dan berpikir secara positif. Setiap kali banjir besar melanda Jakarta di tahun-tahun berikutnya setelah kejadian pertama kali melanda kompleks perumahan, saya selalu tersenyum betapa “norak dan lucu”nya saya dan teman-teman saat pertama kali mengalami banjir. Bahkan saat banjir besar Jakarta setelah kejadian diatas terulang kembali, saya terkadang masih suka berkumpul dengan teman dan tetangga yang senasib, tidak bisa masuk kerja dan sekolah karena banjir. Bercengkerama bukan di hari libur menunggu saat kerja bakti pribadi membersihkan karpet yang kotor, membetulkan pajangan rumah yang harus diselamatkan, membersihkan lumpur di lantai, mengeluarkan air tergenang di dalam rumah, dan merapikan rumah yang tampak seperti kapal pecah.
Kegembiraan warga Tahun lalu masalah banjir membuat warga RT tempat saya tinggal bersepakat membiayai secara swadana peninggian jalan dengan cor beton untuk menanggulangi masalah banjir dengan membayar Rp.250.000,- per rumah. Peninggian ini juga membuat seorang tetangga yang sedang menganggur didampuk menjadi pemborong dadakan. Peninggian jalan ini tentunya adalah pelengkap terhadap berbagai cara mengatasi banjir secara pribadi selain dengan membuat tanggul di pintu masuk rumah. Saat pekerjaan peninggian jalan dilakukan, kegiatan konstruksi ini juga menjadi ajang kumpul-kumpul sesama warga RT. Beberapa kali warga patungan membeli makanan dari kerang hingga ikan yang kemudian dimasak bersama-sama ditengah jalan. Warga tumpah ke jalan dari bapak, ibu, anak hingga cucu berkumpul untuk syukuran dan makan bersama. Jadi dalam kegiatan yang intinya untuk mengatasi masalah banjir ini banyak pihak terpuaskan dari kegiatan ekonomi lokal yang “bergairah” dengan adanya perputaran dana dan kontraktor dadakan hingga warga yang dapat menikmati syukuran atas peninggian jalan. Ah rasanya melihat keadaan tersebut diatas, masalah banjir seperti terlupakan karena menyisakan keceriaan yang manis untuk dikenang meski banjir akhirnya menjadi satu peristiwa yang tidak terelakkan lagi. Namun senyum keceriaan di tengah masalah banjir juga tetap manis untuk dikenang.
Banjir sekarang …. Nggak lage deeeh Benarkah selalu manis untuk dikenang? Di awal tahun 2007 ini, persis di permulaan bulan Februari 2007, banjir besar kembali melanda Jakarta. Saya sendiri mengungsi setelah air tidak juga mau turun selama berhari-hari bahkan mencapai ketinggian hampir selutut. Bayangkan saja hingga tahun 2002 banjir hanya mencapai semata kaki, sekarang? Tapi tetap saja saya berpikir positif karena ditengah banjir sempat naik perahu karet keliling komplek perumahan, bolos kantor karena akses yang sangat sulit dicapai, bermain dengan anak anjing kakak saya (karena saya mengungsi di rumahnya di Bekasi), anak anjing yang suka membangunkan saya ditengah malam dengan menggigit kuping, menarik rambut dan melompat ke kepala saya. Ada hal positif meski pada akhirnya harus sibuk kerja bakti membersihkan rumah yang tampak seperti kapal pecah, hehehehe
| |